Jumat, 27 April 2012

Ibnu al-Nadim Dan Kitab Al-Fihrist


 Ibnu al-Nadim Dan Kitab Al-Fihrist

Salah satu dokumen terpenting dalam sejarah peradaban Islam,'' begitu guru besar pada Fakultas Sejarah dan Filsafat Pendidikan Universitas Colorado AS, Nakosteen menyebut Kitab Al-Fihrist --  sebuah karya bibliografi terbesar sepanjang masa yang ditulis Ibnu al-Nadim pada abad ke-10 M.


Dalam karyanya bertajuk History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350 : With an Introduction to Medieval Muslim Education, Nakosteen mengungkapkan, Al-Fihrist telah membantu para ilmuwan dan sejarawan tentang ilmu-ilmu Islam serta karya-karya klasik berbahasa Arab.

''Hingga akhir abad ke-19 M, pengetahuan tentang peradaban Islam diperoleh berdasarkan informasi yang terdapat dalamKitab Al-Fihrist,”  tutur Nakosteen.  Al-Fihrist merupakan salah satu adikarya  Ibnu Nadim yang juga dikenal sebagaiIndex of Nadim.

Kitab Al-Fihrist merupakan suatu karya bibliografi Islam yang menggambarkan perkembangan Islam berdasarkan kajian terhadap literatur yang terbit di dunia Muslim. Al-Fihrist pertama kali dipublikasikan pada  938 M.

Bibliografi merupakan publikasi yang memuat daftar dokumen baik  yang “diterbitkan” dalam bentuk  buku maupun artikel majalah atau sumber kepustakaan  lain yang  berhubungan dengan bidang, ilmu  pengetahuan atau hasil karya seseorang.

Melalui bibliografi, seseorang tidak menemukan dokumen pustakanya langsung, melainkan hanya memperoleh informasi  tentang  dokumen  pustaka yang memuat  informasi  yang tersebut, seperti informasi mengenai di dalam  bahan  pustaka apa informasi yang dicari berada.

Data yang dicatat dalam bibliografi  antara  lain adalah  nama  pengarang,  nama penyunting, judul pustaka, tempat terbit, penerbit, tahun terbit dan edisi, volume, nomor, halaman (untuk majalah), serta keterangan fisik dokumen pustaka tersebut,  misalnya jumlah  halaman, tinggi  buku, ilustrasi dan sebagainya.

Kitab Al-Fihrist yang ditulis Ibnu al-Nadim tidak hanya menggambarkan apa yang pernah dicapai atau dipahami seseorang terhadap materi Islam, akan tetapi juga menggambarkan bagaimana umat Islam bersentuhan dengan dunia atau paham dan keyakinan lain yang tertuang di dalam suatu literatur sebagai karya orang Islam.

Al-Fihrist terdiri  dari sepuluh bagian. Setiap bagian terdiri dari sub-sub bagian kecuali bagian pertama. Setiap bagian dari Kitab Al-Fihrist tersebut berisi uraian tentang bermacam-macam ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu agama Islam seperti ilmu fikih maupun hadis.

Bibliografi tersebut juga menguraikan ilmu-ilmu non-agama seperti ilmu matematika, astronomi, pengobatan, bahasa, sastra, filsafat, sejarah maupun biografi. Dalam karyanya tersebut, Ibnu Nadim tidak lupa menguraikan kisah para ahli di bidang ilmu-ilmu tersebut.

Pada bagian pertama, Ibnu al-Nadim menguraikan berbagai macam bahasa baik bahasa dari bangsa-bangsa di tanah Arab maupun bangsa-bangsa non-Arab seperti Eropa. Pada bagian pertama kitab tersebut, dia juga mendeskripsikan keanekaragaman tulisan dari berbagai macam bangsa termasuk bentuk dan karakteristik dari tulisan tersebut.

Selain berisi uraian berbagai macam bahasa dan tulisan bangsa-bangsa di dunia, dia juga menuliskan tentang kitab suci dari masing-masing agama seperti; Islam, Yahudi, Nasrani, maupun kaum Sabian.

Bagian kedua Kitab Al-Fihrist berisi uraian ilmu tata bahasa dan filologi serta para ahli di bidangnya masing-masing.  Sedangkan bagian ketiga berisi mengenai sejarah, biografi, dan silsilah. Bagian keempat berisi tentang puisi dan penyair pada masa sebelum lahirnya agama Islam, pada masa bani Umayah dan pada masa Bani Abbasiyah.

Pada bagian kelima mengulas filsafat dan para cendekiawan skolastik. Bagian keenam tentang hukum, ahli fikih dan ahli hadis. Bagian ketujuh tentang filsafat dan ilmu pengetahuan kuno. Bagian kedelapan tentang legenda, dongeng, sihir dan sulap. Bagian kesembilan tentang sekte dan kepercayaan. Sedangkan bagian terakhir atau bagian kesepuluh tentang ahli kimia.

Kitab Al-Fihrist telah memberikan sumbangan yang besar bagi dunia untuk memahami Islam melalui kajian terhadap karya-karya yang dicapai umat Islam di era keemasan. Melalui karya tersebut, Ibnu Nadim tidak saja telah mengenalkan karya-karya pencapaian umat Islam pada suatu masa tertentu, akan tetapi juga telah menunjukkan cara lain dalam memahami Islam.

Dengan demikian, Kitab Al-Fihrist merupakan suatu pendekatan di dalam studi Islam yang dituangkan melalui pendekatan bibliografis, yaitu menunjukkan karya-karya hasil umat Islam mengenai suatu subjek materi ajaran Islam. Dengan karya tersebut, Ibnu al-Nadim bahkan telah membuat pemetaan terhadap berbagai kajian Islam yang dilakukan oleh umat Islam.

Dalam menyajikan daftar literatur, Ibnu al-Nadim menyusun karyanya berdasarkan atas nama pengarangnya lalu diikuti dengan nama-nama kitab atau judul-judul karangannya. Selain itu, dalam menulis berbagai macam ilmu beserta ahli-ahlinya di dalam kitab tersebut, Ibnu al-Nadim hanya menuliskan pengetahuan dari para ahli yang dia kenal dan lihat sendiri dengan baik.

Kalaupun ia tidak mengenalnya, maka Ibnu al-Nadim menuliskan keberadaan ilmu maupun ahli dibidang ilmu tersebut berdasarkan pengetahuan dari temen-temannya yang terpercaya. Yang menarik dari Ibnu al-Nadim, dia sering mencantumkan ukuran buku maupun jumlah halaman dari bukunya di dalam buku-buku karyanya. Sehingga para pembeli bukunya bisa terhindar dari kecurangan para pembuat salinan buku. Kitab Al-Fihrist  telah diterjemahkan pada 1970 ke dalam bahasa Inggris. Ibnu al-Nadim telah memberi insipirasi dan mengenalkan kepada peradaban modern cara membuat sebuah bibliografi. Sumbangan al-Nadim telah diakui peradaban modern, terutama para ilmuwan dan sejarawan Barat. Bibliografinya telah membuka jalan bagi para sejarawan dan cendekiawan yang mencoba menelusuri jejak keemasan Islam di era keemasan.

Maka, pantaslah bila Kitab Al-Fihrist disebut sebagai salah satu dokumen terpenting dalam sejarah kebudayaan Islam.


Jejak Hidup Sang Bibliografer

Sejatinya, ia bernama lengkap  Abu'l-Faraj Muhammad bin Ishaq al-Nadim. Ia merupakan bibliografer Muslim nomor wahid yang berasal dari Baghdad, Irak. Ayahnya al-Warraq juga seorang pelajar dan ahli bibliografi.

Ibnu al-Nadim juga dikenal sebagai penjual buku, seorang pembuat kaligrafi yang menyalin manuskrip untuk dijual kepada orang lain seperti ayahnya. Dia tinggal di Baghdad. Namun ada juga yang menceritakan kalau dia tinggal di Moshul.

Dia juga hidup di lingkungan Bani al-Jarrah yang mendapatkan banyak pengetahuan tentang berbagai macam ilmu pengetahuan seperti ilmu logika dan ilmu pengetahuan umum baik yang berasal dari Yunani, Persia, juga India.

Ibnu al-Nadim juga dikenal sebagai orang yang sangat antusias dan tertarik terhadap berbagai macam ilmu pengetahuan. Selain mendalami bibliografi, Ibnu al-Nadim juga mendalami ilmu sejarah yang menjadikannya sebagai sejarawan yang terkenal pada masanya.

Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan membuatnya tertarik untuk melakukan pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang juga memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Hingga pada suatu masa, Ibnu Nadim pernah bertemu dengan seorang ahli filsafat Kristen yang bernama Ibnu al-Khammar.

Sebuah catatan sejarah pernah menuliskan Ibn al-khammar berkunjung ke rumahnya. Sejak saat itu, dia bersama Ibn al-khammar sering melakukan pertemuan untuk berdiskusi berbagai macam hal mengenai ilmu filsafat maupun ilmu pengetahuan umum seperti sejarah, sastra, dan bahasa.

Meskipun Ibnu Nadim dikenal sebagai seseorang yang memiliki toleransi yang besar terhadap penganut agama lain, dia tidak pernah lupa bahwa dirinya merupakan seorang Muslim. Namun, sejarah tidak memiliki banyak catatan tentang kehidupan Ibnu al-Nadim pada masa kecil dan remajanya, selain cerita karya besarnya Kitab Al-Fihrist yang sangat terkenal di kalangan para ilmuwan dan pelajar, baik di kalangan Timur maupun di Barat.

Meskipun Kitab Al-Fihrist telah bisa dibaca  jutaan orang di seluruh penjuru dunia, namun kitab tersebut sudah tidak selengkap karya aslinya. Pasalnya pada 1258 tentara Mongol melakukan serangan besar-besaran ke Baghdad bahkan banyak perpustakaan yang menyimpan berbagai macam buku pengetahuan termasuk Kitab Al-Fihrist dimusnahkan.

Selain itu buku-buku yang terdapat di perpustakaan tersebut juga banyak yang dibuang ke sungai untuk menghapus peradaban Islam. Akibatnya banyak buku yang rusak dan hancur tanpa bisa diselamatkan


Sumber : Republika

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More